
NEW YORK - Kedelai sempat dipercaya sebagai menu bersahabat bagi penderita diabetes karena membantu mengontrol gula darah. Namun berdasar riset terbaru, penambahan suplemen kedelai bagi kesehatan perlu disikapi hati-hati.
Pasalnya, hasil riset yang dipublikasikan American Journal of Clinic Nutrion awal bulan ini menegaskan penambahan suplemen kedelai ke dalam menu diet ternyata tidak efektif mengendalikan gula darah. Hal itu ditemukan terutama pada wanita lanjut usia berisiko tinggi atau pada tahap awal diabetes tipe 2.
Hasil riset memang menegaskan senyawa protein dan isoflavon dalam kedelai--yang secara struktural mirip dengan estrogen manusia--berfungsi membantu mengendalikan kadar gula darah. Namun, beberapa percobaan klinis yang telah dilakukan mencatat kesimpulan berbeda terkait manfaat kedelai atau suplemen protein kedelai bagi penderita diabetes.
Penelitian tersebu dilakukan di Hong Kong dengan melibatkan 180 wanita postmenopause, baik yang telah didiagnosis pradiabetes dengan gula darah tinggi--meski tak cukup tinggi untuk diagnosis diabetes tipe 2, maupun yang berada di tahap awal diabetes dan belum memulai pengobatan apapun.
Liu Zhao-min, pemimpin tim riset beserta koleganya dari Chinese University of Hong Kong kemudian membagi relawan ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama diminta mengonsumsi suplemen bubuk mengandung protein susu.
Sementara kelompok kedua diminta mengonsumsi suplemen protein susu plus kedelai isoflavon. Lalu, kelompok ketiga diminta mengonsumsi suplemen protein kedelai dengan tambahan isoflavon.
Ketiga kelompok diminta mengonsumsi suplemen tersebut setiap pagi yang dicampur ke dalam minuman mereka. Setelah enam bulan, Liu dan timnya tidak menemukan manfaat nyata, baik pada suplemen kedelai atau suplemen susu plus isoflavon dalam pengendalian gula darah wanita atau tingkat insulin, hormon yang mengatur gula darah.
Meski demikian peneliti mencatat adanya efek "sedikit baik" dari suplemen kedelai pada tingkat gula darah wanita, dua jam setelah makan. Sayangnya, temuan tidak mendukung teori bahwa suplemen kedelai atau isoflavon bermanfaat mengontrol gula darah secara keseluruhan pada wanita seperti dalam penelitian.
Namun Liu dan timnya juga menyarankan agar temuan tersebut tidak dilihat sebagai kata akhir pada kedelai dan diabetes. Mereka menggarisbawahi, percobaan klinis pertama itu khusus dirancang untuk melihat efek suplemen kedelai pada orang dengan pradiabetes atau diabetes awal tipe 2 yang tidak diobati.
"Riset lebih jauh masih diperlukan untuk memperkuat hipotesai ini dengan pendalaman lewat pengujian lebih banyak, menggunakan kedelai yang berbeda, dan pengaturan phytoestrogen yang terjamin," katanya seperti dikutip dari Reuters, pekan ini.
Pangdam Jaya: Ada Umat Islam Pakai 'Amar Makruf' untuk Klaim Kebenaran
5 tahun yang lalu