
DEPOK - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan memulai pelaksanaan pelebaran Jl Margonda Raya tahap kedua sepanjang sembilan kilometer, pada pertengahan April 2010.
Yayan Arianto, kepala Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Pemkot Depok, mengatakan, pelebaran dimulai sebelah barat Universitas Indonesia (UI) sampai ke simpang tiga Ramada atau Jl Arief Rahman Hakim.
Semula panjang jalan yang dilebarkan hanya 5,2 kilometer, tapi terjadi penambahan 3,8 kilometer sehingga menjadi sembilan kilometer. ''Ini proyek Pemprov Jawa Barat,'' kata Yayan. ''Pemprov menganggarkan Rp 11,5 miliar.
Tidak ada pembebasan lahan dan tempat usaha penduduk karena tanah yang dipakai adalah tanah provinsi. BMSDA juga telah melakukan pengukuran dan tidak mengganggu wilayah lain.
Yayan memperkirakan perluasan Jl Margonda Raya tahap dua ini selesai dalam tiga sampai enam bulan. Namun, sampai saat ini BMSDA belum tahu siapa pemenang tender proyek ini.
''Semuanya diurus oleh pihak provinsi,'' ujar Yayan. Proyek pelebaran Jl Margonda Raya ini hanya satu dari tiga paket. Paket lainnya adalah pelebaran Jl Tole Iskandar sampai Jl Pondok Rongen sepanjang 2,5 kilometer dengan anggaran Rp 16,5 miliar.
Yayan berharap pelebaran ini bisa mengatasi kemacetan di sejumlah ruas jalan di Depok. Nurmahmudi Ismail, wali kota Depok, mengatakan, pelebaran dan perpanjangan jalan telah menjadi kebutuhan kota yang sedang tumbuh. Terlebih, katanya, Jl Margonda Raya telah menjadi pusat bisnis.
Sedangkan Qurtifa Wijaya, ketua Komisi A DPRD Depok, mendesak pemerintah mengantisipasi dampak yang ditimbulkan selama proses pelebaran jalan. Salah satunya adalah kemacetan lalu lintas.''Harus ada jadwal pembangunan yang jelas dan tidak molor,'' katanya.
Ia menambahkan, pemerintah juga harus melakukan koordinasi dengan Telkom dan PLN agar penggalian tidak menimbulkan kerusakan jaringan telekomunikasi dan listrik.
Sedangkan anggota Komisi C DPRD Depok, Babay Suhaimi, mengatakan, pelebaran jalan itu bukan solusi untuk mengatasi kemacetan di Depok. ''Harus ada jalan alternatif baru yang dibangun,'' katanya.
Selain Jakarta, Depok memang merupakan daerah yang dikenal macet. Diperkirakan, lebih dari puluhan ribu kendaraan masuk ke kota ini setiap harinya, baik kendaraan pribadi, seperti mobil dan motor, maupun angkutan umum.
Beragam upaya telah dilakukan pemerintah kota untuk mengurangi kemacetan yang ada. Di antaranya, dengan rekayasa lalu lintas, green way (buka tutup jalan), dan 'angkot' way (jalur khusus untuk angkot).
Pangdam Jaya: Ada Umat Islam Pakai 'Amar Makruf' untuk Klaim Kebenaran
5 tahun yang lalu