JAKARTA - Diduga karena bangunannya sudah tua, sedikitnya tiga ruang kelas di SMPN 273, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, rabu (7/4) ambruk. Ironisnya, peristiwa tersebut terjadi saat siswa tengah melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sejauh ini, aparat Polsek Metro Tanahabang masih menyelidiki penyebab ambruknya bangunan sekolah tersebut.
Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan menyebutkan, ketiga ruang kelas yang ambruk itu adalah, ruang kelas satu, ruang Praktek Kelistrikan dan ruang Prakrek Tata Boga. Pada satu jam sebelum kejadian, sekitar 20 siswa kelas satu baru saja mengikuti praktek kelistrikan di ruang praktek yang telah ambruk itu.
Dugaan sementara, ambruknya tiga ruang itu karena kondisi kuda-kuda atap bangunan yang sudah lapuk termakan usia. Seluruh material bangunan tersebut, kini sudah rata dengan tanah. Mulai dari puing kuda-kuda, plafon hingga sebagian dinding, menumpuk jadi satu di lantai ruangan.
Akibat kejadian tersebut, seluruh siswa maupun guru di sekolah itu mendadak panik. Mereka langsung berhamburan keluar kelas, khawatir akan terjadi ambruk susulan di ruang kelas mereka. Sedangkan siswa lainnya juga turut berhamburan karena penasaran dan ingin mencari tahu. Untuk memudahkan proses identifikasi dan penyelidikan, kini petugas kepolisian telah memasang garis polisi di depan tiga ruangan tersebut.
Sumanta (60), seorang penjaga sekolah mengatakan, ambruknya tiga ruangan itu terjadi pada pukul 11.15. Ia mengaku kaget ketika mendengar suara dentuman keras dari tiga ruangan yang terletak di sisi kanan dari pintu utama sekolah tersebut. “Bruk. Bunyinya terdengar keras sekali, saya kaget dan langsung mencari tahu sumber suara itu. ternyata ada tiga ruangan yang ambruk mendadak,” ujar Sumanta.
Tak lama mendengar suara keras itu, debu langsung mengepul dan membubung dari tiga ruangan. Hal itu juga diiringi dengan jeritan dari sejumlah guru dan siswa yang berteriak memberitahukan kejadian itu. Mendadak saja suasana sekolah menjadi gaduh.
Kepala SMPN 273, Taufik mengatakan, awalnya ia tak menduga kalau sekolah yang dipimpinnya itu tak akan roboh. Kendati begitu ia mengakui bahwa sejak 2 bulan lalu, ketiga ruangan tersebut tidak dipakai lagi untuk kegiatan belajar mengajar dan praktek. Sebab setiap hujan deras yang disertai angin kencang, menjadikan balok atap kuda-kuda miring. Kondisi memprihatinkan ini juga sudah terjadi sejak dua bulan lalu.
“ Sejak saat itu, kami pindahkan siswa siswi kelas I ke aula. Ruangan akan digunakan untuk praktek jika cuaca normal dan mendukung. Namun jika turun hujan, rauangan tidak digunakan untuk praktek,” kata Taufik.
Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat, Zainal Soleman, langsung meninjau sekolah ambruk itu. ia menyebutkan, sejak awal memang SMPN 273 sudah diusulkan untuk direhab total. Rencananya, rehab total akan dilakukan pada tahun 2010 ini namun masih terbentur kendala. Sehingga rehab total dijadwalkan pada tahun 2011 oleh Dinas Pendidikan DKI. “Untuk meghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka kini kegiatan belajar mengajar dibagi dalam dua shift yakni pagi dan sore hari,” ujar Zainal. Jok/Bjc
Pangdam Jaya: Ada Umat Islam Pakai 'Amar Makruf' untuk Klaim Kebenaran
5 tahun yang lalu